Saya mendapat pengalaman berharga pada hari minggu 2 hari yang lalu. Menyakitkan namun membuat saya berpikir tentang kehidupanku, dan hubungannya dengan orang lain dan juga hubungannya dengan kehadiranku di bangsa ini.
Pengalamannya seperti ini : saya melakukan sebuah kesalahan, yaitu menjatuhkan timba ke sumur ( hehehehehehe), saya menyadari bahwa saya salah dan berusaha untuk mengambil timba itu. Kemudian ada seorang oknum yang kemudian 'menyarankan' sebuah cara yang impossible yaitu dengan masuk ke sumur itu....
Saya menyadari sebenarnya maksudnya hanyalah untuk mengatakan bahwa saya salah, dan saya bertanggung jawab atas semua kesalahan itu.
Yang membuat saya merasa sesak adalah orang tersebut tidak ada niat untuk membantu, hanya melihat dan berdiri. Ada yang salah? sepertinya tidak, karena memang tidak ada kesalahan yang oknum tersebut buat.. Hanya diam dan melihat dan menantikan saya mengambil timba itu untuk dia pakai.
Akhirnya saya menyerah, saya tidak mampu sendiri, saya membutuhkan orang lain. Akhirnya saya memanggil 'bala bantuan' dari adik saya. Tidak ada keinginan sedikit pun untuk memanggil 'oknum' tersebut. Akhirnya adik saya mau membantu, tanpa keluhan dan pekerjaan untuk mengambil timba itu pun selesai.
Saya kemudian merenung..merenung...dan akhirnya saya memutuskan untuk menuangkan apa yang ada dalam pikiranku. Karena ternyata kita sering mengambil posisi seperti si 'oknum' tadi apalagi dengan status kita sebagai orang percaya.
Karena seringnya kita bergulat dengan hal-hal rohani, ketika kita melihat sesuatu yang tidak beres dengan standar kerohanian kita maka kita pun akan menjadi seorang hakim bagi sesama kita.
Tidak salah memang, ketika kita melihat sebuah kesalahan kemudian kita mengatakan bahwa itu salah. Namun kalau kita hanya terus berpijak pada posisi kita sebagai hakim, tentulah keputusan itu tidak bijak.
Apakah memang orang di sekitar kita tidak menyadari kesalahannya? Atau kalau kita mengambil dari konteks bangsa ini, apakah setiap orang yang melakukan kesalahan entah itu korupsi, main hakim sendiri, mengabsenkan teman-teman kantor, dll tidak menyadari bahwa mereka melakukan hal yang salah? Saya yakin bahwa di dalam hati nurani mereka pasti ada suara yang mengatakan itu salah, meskipun mereka terus menerus mencoba untuk menekan suara yang ada dalam hati mereka.
Sayangnya, sebagai orang-orang yang mengaku percaya kepada Kristus, kita seringkali menempatkan posisi kita seperti 'oknum' tadi. Berdiri bak seorang yang suci, menunjuk setiap orang bersalah, mengatakan kesalahan mereka, dan mencemooh mereka. Sampai di situ saja.
Ya sampai di situ saja, wajar saja jika sesama kita menganggap bahwa tidak ada kontribusi yang bisa kita berikan bagi negara ini.
Padahal yang mereka butuhkan adalah orang-orang yang mau peduli dengan diri mereka. Bukan orang yang hanya menunjuk apa kesalahan mereka. Tapi lebih dari itu, juga turut mengakui bahwa kesalahan dan dosa bangsa ini, kita pun turut andil di dalamnya. Berempati, menolong, menunjukkan care yang benar-benar tulus kepada mereka.
Saya tahu itu sulit, dan pasti ada ketakutan dalam diri kita. Tapi bukankah Ia sudah berjanji bahwa :" Aku akan menyertai kamu sampai kepada akhir zaman." ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar